Dijanjikan Gaji Besar Kerja di Vietnam, Sakti Tangahu Warga Bolmut Malah Terjebak Penipuan Online di Kamboja

Kamis, 12 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kuytanda.com – Bolaang Mongondow Utara – Sakti Tangahu (33), warga Desa Bolangitan II, Kecamatan Bolangitan Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara, mengaku menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) setelah dijanjikan pekerjaan di luar negeri.

Namun ternyata justru dirinya dibawa ke Kamboja dan dipaksa bekerja sebagai pelaku penipuan daring (scam).

Kepada Kuytanda.com , Jumat (6/2/2026), Sakti membeberkan kronologi panjang yang dialaminya melalui sambungan telepon WhatsApp.

Sakti mengungkapkan, tawaran kerja itu datang dari keluarga terdekatnya sendiri, sehingga ia tidak menaruh kecurigaan sejak awal.

Ia mengaku saat itu ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan penghasilan menjanjikan.

“Saya tanya kerja apa. Tapi dia tidak pernah bilang ke Kamboja. Dia cuma bilang kerja di Vietnam kerjanya hanya di depan Komputer,” kata Sakti.

Setelah menyatakan bersedia, Sakti diberi ongkos perjalanan. Dari kampung halamannya di Bolmut, ia berangkat menuju Gorontalo, lalu melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Di Jakarta, Sakti diarahkan untuk mengurus paspor.

Ia mengaku pengurusan dilakukan menggunakan paspor wisata, dan sebelum masuk kantor imigrasi, ia mendapat arahan dari orang-orang yang diduga sebagai agen.

“Mereka ajarkan kalau ditanya imigrasi, jawabnya cuma mau liburan 5 sampai 7 hari. Jangan bilang mau kerja,” ujarnya.

Paspor Sakti terbit pada hari yang sama. Setelah itu, ia menunggu beberapa orang lain dari berbagai daerah, termasuk Medan.

Mereka kemudian dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam satu grup komunikasi.

Beberapa hari kemudian, rombongan diberi tiket penerbangan dini hari.

Rute perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Kuala Lumpur, Malaysia, lalu dilanjutkan ke Ho Chi Minh City, Vietnam.

“Di tiket tertulis Ho Chi Minh. Saya baru tahu itu Vietnam setelah tanya-tanya teman,” katanya.

Setibanya di Vietnam sekitar sore hari, rombongan kembali dijemput oleh pihak yang tidak mereka kenal.

Mereka kemudian dibawa menggunakan kendaraan darat selama sekitar tiga hingga empat jam.

Dalam perjalanan tersebut, rombongan melewati dua pos pemeriksaan. Paspor mereka dikumpulkan oleh pihak tertentu.

“Kami berhenti di satu imigrasi, paspor dikumpul. Tidak lama jalan lagi, berhenti di imigrasi lain. Saya tidak tahu itu sudah masuk Kamboja,” ungkapnya.

Sakti mengaku baru menyadari bahwa dirinya telah diselundupkan secara ilegal setelah kembali ke Indonesia.

Ia tiba di kawasan perusahaan di Kamboja pada malam hari.

Setibanya di lokasi, Sakti sempat dibawa ke tempat hiburan. Namun keesokan harinya, ia langsung dipaksa bekerja.

“Saya langsung duduk di depan komputer. Dikasih skrip. Setelah saya baca, ternyata itu kerja menipu orang,” katanya.

Menurut Sakti, tugas mereka adalah mencari korban melalui Facebook.

Target utama adalah TKW Indonesia yang bekerja di luar negeri, seperti di Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Thailand, hingga Timur Tengah.

“Kami harus kirim pertemanan, bangun komunikasi, pura-pura pacaran sampai korban percaya,” jelasnya.

Setelah korban percaya, mereka diarahkan untuk melakukan video call intim. Rekaman tersebut kemudian digunakan sebagai alat ancaman agar korban mau menyetor uang.

Selama sekitar tiga bulan bekerja, Sakti mengaku tidak pernah menerima gaji, meski dijanjikan upah bulanan.

“Katanya gaji ada, tapi selalu dipotong. Alasan biaya perjalanan, target tidak tercapai, macam-macam. Uangnya tidak pernah saya pegang,” ujarnya.

Merasa terancam dan tidak sanggup lagi bekerja, Sakti akhirnya meminta dipulangkan ke Indonesia. Namun upaya tersebut justru berujung kekerasan.

Ia mengaku sempat meminta perlindungan dengan menyebut ingin berlindung di kantor perwakilan Indonesia.

Namun, menurut pengakuannya, ia justru mengalami kekerasan.

“Saya dipukul, diinjak, diborgol. Tangan saya sampai berdarah. Saya disiksa. Saya pikir waktu itu saya sudah mau mati,” kata Sakti.

Sakti juga mengaku sempat ditahan dan dibawa ke penjara selama beberapa hari. Ia menyebut melihat aparat dan petugas berseragam sebelum akhirnya kembali dibawa keluar.

Beberapa hari kemudian, Sakti akhirnya dipulangkan ke Indonesia. Namun dalam proses pemulangan, ia mengaku kembali mengalami kekerasan.

“Saya diborgol pakai tali, dipukul di dalam mobil, dipaksa dibawa ke rumah sakit dan disuntik obat penenang,” ujarnya.

Sakti akhirnya tiba di Indonesia dalam kondisi fisik yang lemah dan penuh luka.

Sementara itu Hikma, warga Gorontalo yang merupakan salah satu anggota keluarga Sakti, membenarkan kondisi tersebut.

“Waktu dia datang ke Gorontalo, kami lihat langsung banyak luka di badannya. Dia juga cerita sempat dipukul,” ujar Hikma singkat.

Kasus yang dialami Sakti menambah daftar panjang warga Indonesia yang menjadi korban TPPO dengan modus penawaran kerja di luar negeri.

Dan sakti mengunkapkan bahwa di Bolaang Mongondow Utara sudah ada calonya, Ia berharap pengalamannya bisa menjadi peringatan agar masyarakat lebih berhati-hati terhadap tawaran kerja, termasuk yang datang dari orang terdekat sendiri. ( Gretha )

Berita Terkait

‎FOX Hotel Gorontalo Launching Program Unggulan Tahun 2026
Jalan Trans Mekar Jaya, Wonosari Putus, Pengendara Diminta Putar Lewat Wonggahu
Hadiri Rakornas Kepegawaian BKN 2025 di Jakarta,Wabup Tonny Junus : Transformasi Digital dan Peningkatan Kompetensi ASN Gorontalo
HUT PGRI ke-80 Di Kabupaten Gorontalo Berlangsung Meriah, Hadiah dan Door Prize Hibur Ratusan Guru
Diskresi untuk Efektivitas Pemerintahan: Kekompakan Tim Kerja Lebih Penting dari Asumsi Konflik Kepentingan
Diperan Saka Nasional,Wamenhan Donny Ermawan: Tanamkan Wawasan Kebangsaan 
Ribuan Jamaah Padati “Sejalan Ketaqwaan” Bersama UAS Masjid Agung Baiturrahman Boltara
Bupati Sofyan Puhi Minta Pengelolaan Keuangan Daerah Lebih Transparan

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 09:55

Dijanjikan Gaji Besar Kerja di Vietnam, Sakti Tangahu Warga Bolmut Malah Terjebak Penipuan Online di Kamboja

Minggu, 25 Januari 2026 - 09:59

‎FOX Hotel Gorontalo Launching Program Unggulan Tahun 2026

Sabtu, 3 Januari 2026 - 19:15

Jalan Trans Mekar Jaya, Wonosari Putus, Pengendara Diminta Putar Lewat Wonggahu

Rabu, 19 November 2025 - 12:31

Hadiri Rakornas Kepegawaian BKN 2025 di Jakarta,Wabup Tonny Junus : Transformasi Digital dan Peningkatan Kompetensi ASN Gorontalo

Minggu, 16 November 2025 - 09:32

HUT PGRI ke-80 Di Kabupaten Gorontalo Berlangsung Meriah, Hadiah dan Door Prize Hibur Ratusan Guru

Berita Terbaru