Gorontalo.Kuytanda.com – Bone Bolango – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinsosP3APPKB) Kabupaten Bone Bolango kolaborasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Gorontalo memperkuat pembinaan program pencegahan stunting. Kegiatan ini berlangsung di Balai KB Kecamatan Kabila, Kamis (03/07/2025).
Kegiatan ini dikemas dalam penguatan pada Pertemuan Lintas Program/Lintas Sektor (LP/LS) dalam rangka Pembinaan Keluarga Risiko Stunting Pasangan Usia Subur (KRS PUS) 4T di Kabupaten Bone Bolango, dan menjadi bagian dari upaya strategis lintas sektor untuk menurunkan angka stunting di Provinsi Gorontalo. Pertemuan ini diikuti 25 orang peserta yang berasal dari berbagai unsur lembaga pemerintah dan masyarakat. Turut hadir pula perwakilan dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kabila, bidan koordinator puskesmas yang juga merupakan penanggungjawab program KB dan kesehatan reproduksi bagi calon pengantin, serta penyuluh lapangan KB Kecamatan Kabila.
Kepala Dinas Sosial P3APPKB, Kabupaten Bone Bolango, Udin Kuku mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kesehatan memilih lokasi Kecamatan Kabila untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Hal ini membuktikan keseriusan pemerintah dalam penanganan Stunting.
Udin mengatakan, di Kabupaten Bone Bolango sendiri sudah ada Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tahun 2025 yang diketuai Wakil Bupati Bone Bolango, Risman Tolingghu. Ia meminta TPPS terus memantau terutama ibu-ibu hamil untuk diberikan BPJS Kesehatan dan bantuan pemenuhan gizi.
“Karena sering kami temui, kalau sudah sakit buru-buru urus BPJS. Bikin pusing juga saat meminta rekomendasi nanti sudah menjalani operasi atau persalinan. Ini harus segera diurus, yang penting ada kartu keluarga,” pinta Udin.
Sementara terkait pembinaan KRS PUS, kata Udin, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui kader TPK dan penyuluh yang merupakan mitra di desa.
“Yang paling penting itu data ibu hamil. Kami berharap mitra-mitra kerja yanga da bisa mengoptimalkan kinerjanya dalam pembinaan dan edukasi terkait KRS PUS,” ujar udin.
Disamping itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dr Anang S. Otoluwa di Gorontalo menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak, baik lintas program, lintas sektor, maupun masyarakat dalam menangani stunting. Salah satu fokus utama adalah pada kelompok Pasangan Usia Subur (PUS) dengan risiko tinggi melahirkan anak stunting, yang dikenal dengan istilah ‘Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Dekat Jarak Kelahiran dan Terlalu Banyak Anak’ (4T).
“Intervensi terhadap KRS PUS 4T merupakan langkah preventif yang sangat penting dalam memutus mata rantai stunting. Diperlukan pendampingan, edukasi, serta layanan kesehatan yang komprehensif untuk kelompok ini agar kita bisa mencegah stunting sedini mungkin,” kata Anang.
Anang mengapresiasi keterlibatan aktif para peserta dalam mendukung program percepatan penurunan stunting melalui edukasi, pembinaan keluarga dan pelayanan kesehatan reproduksi. Ia menekankan upaya bersama ini merupakan kunci dalam mewujudkan generasi sehat, bebas stunting dan unggul di masa depan.
Melalui pertemuan ini diharapkan terbentuk sinergi dan komitmen kuat antar sektor dalam mendampingi keluarga berisiko dan mengoptimalkan peran strategis desa dalam pencegahan stunting khususnya di Bone Bolango.









